Selasa, 22 Juli 2014

Sholat 24 jam

Sholatlah sambil bekerja.. Bekerjalah sambil berdiam.. Berdiam sambil berjalan..Tidurlah tetap berbaring.. Berbaringlah seolah-olah tertidur.. Maka, tidurlah sambil berjaga.. Jagalah terus-menerus.. Sebab Da’imun Sholah tiada berkeputusan.. Hanya ada di dalam rasa.. . Matikan dirimu dahulu sebelum matimu datang.. Matilah pada “LAA ILAHA ILLA HUA” sebelum mati pada “LAA ILAHA ILLA HU” Habiskan… Mesrakan… sebelum tertidur.. Tatkala masuk pujinya sudah HU.. Tatkala keluarpun pujinya sudah ALLAH.. Tiada huruf tiada suara.. Tatkala naik nafas bernama RABBUN. Tatkala Ia bergerak ke kerongkongan ada rasa bernama DZATUL BUHTI. Dan, Tatkala tidur berhenti bernama DZATUL AHDAS, Disitulah tempat menerima perintah, Disitulah tiada yang disembah dan tiada yang menyembah, Jangan lepas pandangan Zuhud (kerinduan) ini, Masuklah sedekat nafas lalu pandang apa jua yang ada.. Inilah yang dinamakan latihan Sholat yang hakiki, Lazimi pemakaian ini..

Perjalanan sholat daim

Ilmu Hakekat Insan ‎.Cara ‘MENGHILANGKAN’ kemudian ‘MENYATAKAN’ adalah dengan mengetahui tentang PERJALANAN SHOLAT DA’IM yaitu : 1. Di dalam sulbi MAUL HAYAT (mesrakan turun nafasmu ke sulbi) 2. Di pohon kalam MADI (nuk) 3. Di pucuk kalam MANI, 4. Ke luar kalam MANIKAM (Jalil Jalallah nama asli bayi) 5. Mulai masuk NUTFAH, 6. Umur 1 bulan RUH NABATI (Jalallah) 7. Umur 3 bulan RUH JASMANI, 8. Umur 5 bulan RUH NAFSANI, 9. Umur 7 bulan RUH ROHANI, (tik.. tik..) 10. Umur 9 bulan RUH IDHAFI (Haq.. Haq.. memuji dirinya RABBUN) 11. Keluar dari rahim, WALADAL INSAN AMINULLAH. 12. Umur 7 hari MUHAMMAD, 13. Umur 40 hari MUHAMMAD IDHAFI, 14. Umur 2 Tahun MUHAMMAD AINAL INSAN, 15. Umur 7 tahun MUHAMMAD SHOLATULLAH, 16. Umur 10 tahun MUHAMMAD SHOLAWATULLAH (detik nafas) 17. Umur 14 tahun MUHAMMAD KAMARULLAH, 18. Umur 25 tahun MUHAMMAD AMINULLAH, 19. Umur 35 tahun MUHAMMAD SHIRATULLAH, 20. Umur 40 tahun MUHAMMAD UZUNULLAH, 21. Umur 41 tahun MUHAMMAD RASULULLAH, 22. Ketika Isra’ Mi’raj ABDULLAH, 23. Ketika di langit MUHAMMAD MUTLAK, 24. Ketika di Mustawan AHMAD, 25. Ketika umur 63 tahun KALAMULLAH, 26. Ketika kembali RAHMATULLAH, 27. Ketika di Mahsar AL HASYIR, 28. Lebur ke hadirat Allah HABBIBULLAH, 29. Nama yang ter-rahasia AHMAD ABUL QASIM, 30. Nama tiada huruf tiada suara HAQ.. HAQ.. (aslinya) Itulah 30 huruf, 30 ayat, 30 juz menjadi AL-QUR’AN dalam dirimu

Rahasia suhudul wahdah fil kasrah

“KUNTU AWALAN NABIYYINA FIL KHALQI WA AKHIRIHUM FIL BATSI” Adalah Aku (AHMAD) yang awal-awal dari pada sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul semua yang ada di dalam RAHASIA awal-awal keadaan, dan adalah Aku (MUHAMMAD) yang menjadi kesudahan mereka itu di dalam masa ke dzahiran. Aku yang Awal, Aku yang Akhir, Aku yang Dzahir dan Aku yang Batin. Aku yang buka dan aku yang Tutup, Aku yang menghimpun semuanya. Seperti Nafas kepada Ruh, Ruh kepada Nyawa, kemudian Nyawa meliputi seluruh tubuh. Itulah Ahmad kepada Muhammad kepada seluruh Rasul, rupa Muhammad. Yang menjadi fokus perhatian adalah nama kebesaran bagi Insan Muhammad yang ada di Madinah di dalam hal kerasullan. Al-Insan itulah yang telah kembali .. Inilah contoh bagi kita agar mengenal betul-betul junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang bermakam di Madinah. Adapun Ahmad adalah Muhammad terhimpun Rasulullah tetap hidup selama-lamanya.., Itulah yang dinamakan Tasauf yang benar-benar hak adanya. Karena Tasauf adalah Ilmu Rabbani yang menyatakan pandangan SALASIYAH yang melampaui akal dan fikiran yaitu perihal keadaan awal-awal yang telah ada tentang keadaan Allah SWT yang sebenarnya. Sedangkan yang mengatakan Muhadast adalah hukum akal saja, itu hanya paham tasauf pasaran dan tidak boleh diterima. Mengapa.. ? Bila diterima berarti syahadat tidak sempurna, karena tidak mengetahui ujung pangkal siapakah sebenarnya Diri. “ANA ABU ARWAH WA ADAMA ABU BASHAR” Aku bapak sekalain ruh dan Adam bapak sekalian tubuh Semua telah terhimpun di dalam Nur Muhammad SAW yang bernama Nur Kibriya, U.. Muhammad yaitu Nur sifat kebesaran Nya, Rahmat dan berkat Muhammad yang telah Maujud atas seluruh Rasul termasuk Al-Insan yang ada di madinah itu adalah Nur Kibrinya U.. Muhammad yakni Nur (sifat) kebesaran Rahmat dan berkat safaat Nabi besar Muhammad SAW yang telah maujud yang sangat mulia di dalam alam ini. Itulah maksud dari pada paham perkataan ahli Tasauf tentang : “SHUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH dan SHUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH” Maksudnya : Pandang akan keadaan Al-Insan yang banyak itu terhimpun di dalam satu kesatuan dan tetap memandang hanya satu RAHASIA yang banyak kepada Nur Muhammad SAW yaitu Nur Kibriyah U.. . Dalam pemakaian Ilmu Hakekat Usul Diri : “SHUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH” Nafas kita keluar dari kepala keliling, lalu memasukan dan tahan dua detik lalu mesrakan setelah itu di keluarkan nafas pelan-pelan. Itulah pemakaian Rahasia memandang yang banyak “SHUHUDUL WAHDAH FIL WAHDAH” Memandang satu diri yang Satu, Reflex, tunduk kepala tahan nafas sambil melihat dari hulu-hulu sampai seluruh batang tubuh kita. Mesrakanlah baik-baik nafas, lembuut.., keluar nafas tidak ada rasanya, itulah yang disebut oleh Al Arif Billah tentang “AHMAD AMINULLAH AINUL HAQ” Turun Rasulullah SAW…. Simpul tentang itu bertubuh Rohaniah dzahir dan batin adanya. Itulah ilmu tanpa suara tanpa ceritera yang berputar-putar

Penciptaan

~ Tentang Penciptaan ~ Ilmu Hakekat Insan ‎Hadist di riwayatkan oleh Imam Ali Bin Abi Thalib : “QABLA’AN YAHLUKAS SAMAWATI WAL ARDHI, WAL ARSYI, WAL QURSYI, WAL HUJUBI, WAL JANNATI, WAN NARI, WAD DUNIA, WAL AKHIRA, WA ADAMA, WA SISAN, WA NUHAN, WA IBRAHIMA, WA SULAIMANA, WA MUSA, WA ISA, … “ Maksudnya : “Sebelum kejadian Arsyi, Qursyi, hijab 7 lapis Langit dan Bumi, pengertian TURUN NAIK NAFAS kita sudah tersedia berkekalan Surga, Neraka, Dunia dan Akhirat, Nabi Adam AS, Nabi Sis AS, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS….” KOSONG. 624.000 tahun masih KOSONG, Allah Ta’ala yaitu kosong (waktu naik nafas keatas) Kosong bernama Ujud (Nur Nabi namanya) Jadi, Nur Rasulullah SAW sudah sedia 624.000 tahun lamanya. Kosong itulah sebenar-benar Laisa, bernama HUWA JIBUL WUJUD, NUR MUHAMMAD SAW, tajjali sendiri, menyipikan sendiri, terangkat sendiri. ESA adanya jua.. . Dari KOSONG menjadi TITIK Itulah kesempurnaan Syahadat adanya denyut (waktu menahan nafas turun) Titik itu bernama NUR SALASIAH (Rahasia Nabi) Yang ter-rahasia lagi ABU KASIM namanya. Inilah adanya 2 nama tapi 1 ujud, tiada lain, NUR.. NUR.. jua Yaitu rahasia TITIK dan KOSONG. . Dari TITIK menjadi ALIF. Terjadinya alam semesta (waktu keluar nafas) Qodrat dan Iradatnya bernama Allah Ta’ala, Yaitu Alif semata-mata ASMA dan AF”AL. Kemudian barulah INSAN ADAM namanya bertubuh Rahim Muhammad SAW, Kemudian NUR MUHAMMAD SAW yang awal-awal memuji dirinya sendiri, Maka, Berlakulah JALAL dan JAMAL .. . Puji Nur Rasulullah SAW, terbagi atas 12 Hijab yaitu : 1.Hijabul Kudus, KEKUASAAN, pujinya “SUBHANA RABBIAL A’LA” 2.Hijabul Akbar, KEBESARAN, pujinya “SUBHANA ALIMISSIRI WA AHFA” 3.Hijabul Minnah, PEMBERIAN, pujinya “SUBHANA RABBIAL ADZIM” 4.Hijabul Rahmah, KASIH SAYANG, pujinya “SUBHANA RAUFFUR RAHIM’ 5.Hijabul Sya’adah, KEBAHAGIAAN, pujinya “SUBHANA MAN HUWA DA’IMUN” 6.Hijabul Karomah, KEMULIAAN, pujinya “SUBHANA ALIMUN HAKIM” 7.Hijabul Manjilah, ANUGERAH, pujinya “SUBHANA ZIL MULKIL A’LA” 8.Hijabul Hidayah, PETUNJUK, pujinya “SUBHANA RABBIAL ARSYIL AZIM” 9.Hijabul Nubuah, KENABIAN, pujinya “SUBHANALLAHI WABIHAMDIHI” 10.Hijabul Rib’ah, KEBERUNTUNGAN, pujinya “SUBHANAL MALIKIL KUDDUS’ 11.Hijabul Ta’ah, KETAATAN, pujinya “SUBHANAL KADMUL AZALI” 12.Hijabul Syafa’at, SYAFAAT, pujinya “SUBHANAL MALIKUL MA’BUD” . Jadi.. Adanya Nur terbagi 12 Hijab dengan puji-pujinya itu tiada lain kesemuanya adalah HU… Diri Rasulullah SAW yang awal-awal atau Rahasia Dzat Wajibul Wujud yang sebenar-benarnya.

Senin, 21 Juli 2014

Iman,Islam dan Ihsan

Iman, Islam Dan Ihsan Pada saat Malaikat Jibril bertanya tentang konsep Iman, Islam dan Ihsan, Rasulullah SAW menjawab :”Bahwa Iman ialah hendaklah Engkau mengimankan Allah, Malaikat Allah, Kitab kitab Allah, para Utusan Allah, Hari Qiyamat, dan mengimankan Taqdir, baik dan buruknya adalah ketentuan Allah. Islam ialah hendaklah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah, dan nabi Muhammad adalah UtusaNYA, mendirikan Shalat, Menunaikan Zakat, berpuasa Ramadhan, dan berangkat Haji bila telah mampu. Sedangkan Ihsan yaitu hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihatNYA, apabila tidak bias demikian ,maka sesungguhnya Allah melihat engkau”. Melihat makna Hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari diatas, Iman berarti kepercayaan hati dibarengi dengan membenarkan segala apa yang disampaikan Rasulullah. Islam berarti kepatuhan dan penyeragan lahiriyah dengan mengucapkan kalimat syahadat. Dan Ihsan berarti, kejernihan dan keihlasan hati beribadah karena Allah dengan sungguh sungguh. Antara ketiga kekuatan itu saling kerja sama dan saling membutuhkan dalam mencapai puncak kerelaan Allah. Iman sebagai landasan Islam dan Ihsan, Islam sebagai bentuk manifestasi Iman dan Ihsan, sedangkan Ihsan mengusahakan agar keimanan dan keislaman yang sempurna. Secara lahiriyah orang tidak dapat dikatakan Islam manakala tidak mengucapkan syahadat, ibadah shalat, zakat berpuasa ramadhan, dan menunaikan haji yang merupakan pelaksanaan Ihsan secara lahiriyah, atau kesempurnaan Islam itu sama sekali tidak berarti, jika tidak dilandasi Iman ( Tashdiq ) dan Islam ( membaca syahadat ). Ibadah shalat, zakat, puasa, haji dan lain lain akan menjadi berarti manakala ada Iman dan Islam, karena syarat Ihsan secara lahiriyah harus dengan Iman dan Islam, meskipun sahnya Iman dan Islam itu tidak harus dengan Ihsan. Memang Iman dan Islam itu otonom jika dilihat dari keabsahanya, karena Iman dan Islam sudah merupakan jaminan keselamatan dunia dan ahirat. Iman yang benar dapat menyelamatkan dari keabadian siksa Neraka, sedangkan Islam dapat menjaga hak hidup lahiriyah yang berhubungan dengan agama dan Mu’amalah, Munakahat, Waris mewaris dan lain sebagainya. Tetapi kemungkinan Iman dan Islam itu akan menjadi kering kerontang, bahkan musnah sama sekali dari lubuk hati, manakala tidak mengakui atas segala dosa dosa yang telah dilakukanya, karena suatu dosa lambat laun akan menyeret pelakunya pada kekufuran, jika tidak lekas di taubati. Oleh sebab itu sebagai Mukmin yang baik disamping beriman dan berislam, hendaklah melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan Allah SWT, secara sadar, agar memperoleh Ihsan yang sebenarnya. Ushuliddin, Fiqih Dan Tashawuf Itulah sebabnya, Ulama’-ulama’ pakar Alussunah menerangkan bahwa Iman, Islam dan Ihsan itu terdapat tiga pandangan, Uhuliddin, Fiqih Dan Tashowuf. Dari ketiga itu kemudian muncul istilah Ushulul Fiqh, Fiqhul Ushul, Ushulul Ushul, Tasawuful Ushul, Ushulut Tasawuf, Fiqhut Tasawuf, dan sebagainya. 1. Menurut ilmu Ushuliddin, Iman ialah kepercayaan membenarkan dalam hati kepada segala apa yang disampaikan Rosululloh, berupa hukum perintah, larangan, berita dan janji yang termaktub dalam Al Qur’an dan Al Hadits Shohih. Terwujudnya iman dalam hati itu sudah barang tentu tidak mengabaikan syarat dan rukun-rukun yang menjadikan sebab kebenaran iman itu dengan menjaga dari segala keyakinan yang merusak iman. Menurut ilmu Ushuliddin Islam ialah kepatuhan penyerahan mengucapkan dua kalimah Syahadad serta mengetahui, mengimani dan membenarkan makna dua kalinah Syahadad. Yakni bahwa tiada Tuhan yang patut disenbah kecuali Alloh dan Nabi Muhammad itu utusan Alloh. 2. Menurut ilmu Fiqih, Iman ialah kepercayaan membenarkan dalam hatikepada segala apa yang dating dari Rosulullohsebagai landasan amal ibadah kepada Alloh, karena amal ibadah yang tidak berlandaskan iman mustahil akan menjadi sah. Sedangkan Islam menurut ilmu Fiqih adalah pekerjaan ibadah seperti Sholat, Zakat, Puasa, Haji dan lain-lain dengan memenuhi syarat dan rukun serta menjaga dari segala hal yang membatalkannya. Jadi Islam sebagai manifestasi iman yang kemudian Islam menjadi syarat keabsahan ibadah dalam fiqih. 3. Menurut ilmu Tasawuf, iman merupakan landasan pokok diterimanya ibadahkemudian Alloh memberikan pahala dengan ibadah yang dikerjakan. Dan Islam menurut Tasawuf ialah ibadah yang benar itu dapat lantaran tercapainya Ihsan yang menyebabkan ibadah tersebut memperoleh pahala. Dalam kata lain, Ihsan dapat dicapai kalau memang amal ibadah (Islam) nya itu benar dan tentunya berdasarkan iman yang benar juga. 4. Dan Ihsan menurut ilmu Fiqih ialah perilaku ibadah secara lahir. Orang beribadah secara lahiriyah bias dikatakan Ihsan (kebagusan). Namun ilmu Tasawuf menggariskan ibadah Ihsan itu ialah iabadah yang disertai dengan adab dan sopan santun menurut agama. Adab atau sopan santun didalam ibadah ialah melaksanakan sifat-sifat yang terpuji (mahmudah) dan menjauhi sifat-sifat tercela (mazmumah) sifat-sifat terpuji dalam ibadah ialah adanya perilaku suhud, qona’ah, sabar, tawakkal, mujahadah, ridlo, syukur dan ihlas, khouf, mahabbah, ma;rifat kemudian khusu’. Adapun sifat-sifat tercela dalam ibadah ialah, hubbuddunia, thama’, ithbaul hawa (mengikuti hawa nafsu) ‘ujub, riya, takabbur, hasud, dan sum’ah kemudian tidak khusu’. Walhasil bahwa sesungguhnya Iman itu berarti Aqidah, Islam berarti Syari’ah dan Ihsan berarti Ahlaqul karimah. Bab iman masuk kedalam Ushuliddin, Islam masuk kedalam Fiqih dan Ihsan masuk kedalam bab Tasawuf. Ketiganya ; Iman, Islam dan Ihsan dalam pengamalan adalah satu kesatuan yang dirumuskan menjadi tiga perkara : Syari’ah, Thoriqoh, Haqiqoh kemudian menghasilkan Ma’rifatulloh (berfikir tentang ciptaan Alloh) Syari’at, Thoriqot, Haqiqot adalah dari tiga kesatuan terpenting, uaitu Iman, Islam, dan Ihsan, kemudian Ulama’ Ahlussunah merumuskan menjadi tiga perkara, ketiganya itu merupakan kesatuan yang tidak bias dipisahkan, yaitu Syari’at, Thariqat, dan Hakikat. Ketiganya selalu berhubungan dengan masalah Ibadah dan Mu’amalah, berikut gambaranya : 1. Syari’at Ibadah. Syari’at orang yang beribadah ialah melengkapi segala syarat dan rukunya, melakukan kewajiban dan meninggalkan maksiat, yakni didalamnya mencakup Iman dan Islam, karena syarat sah dan syarat wajib dalam ibadah haruslah berlandaskan Iman dan Islam. Syari’at Mu’amalah adalah, pertatian dan perdagangan hendaknya mentaati segala undang undang agama yang bersumber dari Alqur’an dan Sunnah Rasul yang telah dirumuskan sedemikian rupa oleh para Ulama’ Mujtahid dalam ilmu Fiqih. 2. Thariqat ibadah. Thariqat orang beribadah ialah bertujuan karena Allah semata, tidak karena yang lain. Sebab hanya Allah lah yang dapat menerima atau menolak segala amal ibadah manusia. Dan Thariqat Mu’amalah ialah hasil keuntungan dari pertanian dan perdaganganya, dimanfaatkan untuk mencari Ridla Allah semata, walaupun dari hasil yang mubah, akan tetapi jika di niati untuk berbakti kepada Allah, semisal untuk menafkahi keluarga, biaya pendidikan, dan beramal kebaikan yang lain, niscaya tidak akan sia sia. 3. Hakikat Ibadah. Hakukat prang beribadah ialah, memandang bahwa kemampuan dirinya dan tersedianya segala sarana yang melengkapi ibadahnya itu secara hakikatnya dari kemurahan Allah. Tanpa kekuasaan dan kehendak Allah, tidak mungkin manusi dapat melakukan Ibadah. Sedangkan Hakikat Mu’amalah yaitu memandang bahwa keberhasilan dalam Usaha pertanian ataupun perdaganganya adalah atas Inayah dan AnugerahNYA semata. Manusia tidak ada hak wewenang memastikan keberhasilan sesuatu yang dikerjakan, dan tidak berhak pula mengakui keberhasilanya disebabkan karena usahanya belaka. Ibadah dan Mu’amalah, lewat tiga rumusan diatas akan melahirkan Ma’rifatullah. Demikian K.H. Ahmad Rifai menyatakan dalam Tahyirah Muhtashar, Abyanal Hawa’ij, Ashnal MIqashad, dan Ri’ayatul Himmah.

Kamis, 23 Januari 2014

Percembuan

Aku adalah rumput
Disudut bunga
Yang sejak dulu ada
Ketika kau pun ada
Dalam lingkar hitam

Aku adalah ilalang
Yang menerusuk
Mendekat
Menyentuh
Mencoba mengapit - menggamit
Menelusupkan tangan jari jemari semu ke dada mu

Engkau adalah, Bunga !
Yang tadi sore aku berharap
Biar atas asaku adalah debu
Ku tunggangi angain
Sebarkan putik
Putih
Kecil
Melayang berlenggang

Engkau adalah Bunga!!
Yang tadi malam aku bermimpi
Tahu kah kau?
Kemarilah, mendekat

"Td malam kita bercembu. Mesra nian. Ku remas jemari mu. Aku mendengar detak itu ada13 ketuk. Kau-aku terus bercembu di 5 pertemuan. Dan di 1/3 malam ku kembali memelukmu karena kau kembali merayu."